CIREBON--Bagi kalian
kalangan pelajar atau remaja yang ingin belajar dan memperdalam kesenian
Cirebon, bisa memulai belajar di Sanggar Seni Sekar Pandan yang ada di Komplek
Keraton Kacirebonan Kota Cirebon Jawa Barat. Pembina Sanggar Seni Sekar Pandan
di Keraton Kacirebonan Kota Cirebon Heri Komara Hadi (Elang Heri) mengatakan
pembelajaran kesenian Cirebon di Sanggar Sekar Pandan dimulai dari tingkat
dasar atau untuk pemula. Dia menuturkan kesenian Cirebon yang diajarkan di
Sanggar Seni Sekar Pandan mulai dari seni tari Cirebon seperti tari topeng,
sintren dan drama wayang uwong (wayang orang). “Jika berminat belajar kesenian
Cirebon bisa datang ke sekretariat Sanggar Seni Sekar Pandan di Komplek Keraton
Kacirebonan,” katanya ketika dihubungi bisnis-jabar.com, Jumat (4/10/2013).
Heri mengungkapkan peserta didik Sanggar Seni Sekar Pandan nantinya diberikan
sarana mengekspresikan diri melalui pentas seni bulanan yang digelar rutin tiap
bulan. Info lebih lanjut mengenai Sanggar Seni Sekar Pandan bisa datang
langsung ke sekretariat di Komplek Keraton Kacirebonan (Elang Heri CP:
085295996636), atau mengikuti akun resminya di @SEKARPANDANcrb. (k3/k29)
ANGGOTA KELOMPOK
Ega Tegar S,Heni Erdiani,Putri Lestari,Bapak Elang Komarahadi,Nisa ,Rhatna .
SANGGAR SENI TARI PANDAN
Jl. Jagasatru ,Pulasaren, Kec.Pekalipan, Kota Cirebon, Jawa Barat 45116.
Logo Sanggar Seni Sekar Pandan
Jl. Jagasatru ,Pulasaren, Kec.Pekalipan, Kota Cirebon, Jawa Barat 45116.
Ketua Sanggar Seni Sekar Pandan
Bapak Elang Komarahadi.
Macam-Macam Topeng
Beberapa Foto Topeng.
Tampilkan postingan dengan label sekar pandan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekar pandan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 02 Januari 2020
25 Tahun Sanggar Seni Sekar Pandan, Tampilkan Tari Topeng Medley Lima Wanda
PILARBERITA,KOTA CIREBON – Sanggar Seni Sekarpandan yang berlokasi di
lingkungan keraton kacirebonan Cirebon sudah menginjak usianya yang ke 25 tahun
sanggar seni sekarpandan mengadakan berbagai rangkaian ulang tahun di tahun
2017 dengan menggelar ark-arakan seni budaya Cirebon serta pagelaran seni tari
kreasi Tradisional, Medley tari Topeng lima Wanda serta penampilan Wayang Wong
yang dibawakan oleh murid dari sanggar seni sekar pandan Kota Cirebon, Minggu
(7/5/2017). Malam
Dalam Prosesi ulang tahun yang di gelar minggu malam kemaren, di alun-alun
keraton kacirebonan Cirebon yang dihadiri Sultan Kacirebonan IX Pangeran Raja
Abdul Gani Natadiningrat beserta Istri serta dihadiri dari pihak Disporbudpar
kota Cirebon dan Seniman Budayawan Cirebon.
Sultan Kacirebonan IX Pangeran Raja Abdul Gani Natadiningrat mengatakan
bahwa pihaknya sangat mengapresiasi adanya sanggar seni sekarpandan ini yang
mana sudah melestarikan dan mengembangkan seni budaya Cirebon, untuk itu
pihaknya sangat mengapresiasi adanya sanggar seni sekar pandan ini.
Sementara itu pimpinan Sanggar Sekar Pandan Elang Heri Komalahadi
mengatakan Sanggar Seni Sekar Pandan adalah sebuah Sanggar yang berlokasi di
Kompleks Keraton Kacirebonan, di jalan Pulasaren Kota Cirebon. Sanggar Seni
Sekar Pandan berdiri pada tahun 1992, dan di kelola oleh putra putri daerah
Keraton Kacirebonan.
Sampai sekarang Sanggar Seni Sekar Pandan telah melatih ratusan anak didik
dan juga menjadi pusat pelestarian Seni dan Budaya Cirebon. Sanggar Seni Sekar
Pandan juga telah banyak mendidik mahasiswa asing dan seniman-seniman asing
dari berbagai negara.
Heri menambahkan Selain membuka kegiatan pelatihan di dalam sanggar, Kami
juga mengadakan kerjasama dengan sekolah-sekolah dalam kegiatan pengembangan
kesenian tradisional mulai dari tingkat taman Kanak-kanak sampai dengan tingkat
Perguruan Tinggi.(Jums)
Wow..Sanggar Sekar Pandan akan Pecahkan Rekor ORI
CIREBON-Kesenian tradisional Kota Cirebon
terkenal memiliki keunikan dan keunggulan dibandingkan dengan daerah lainnya.
Hanya diperlukan pengenalan dan promosi agar kesenian tersebut mendapatkan
apresiasi berupa kunjungan wisatawan.
Atas hal
itu, hari ini di Halaman Keraton Kacirebonan, Sanggar Sekar Pandan akan
menggelar pemecahan rekor Original Rekor Indonesia (ORI). Dengan menyajikan
Rampak Topeng Samba berkolaborasi dengan Seni Jaran Larad.
Ketua Sanggar Sekar Pandan Elang
Heri Komara Hadi mengatakan, sedikitnya 270 penari akan memecah rekor ORI.
Dengan Tarian Topeng Samba dan Jaran Larad. Persiapan anak didiknya sudah
maksimal, dengan latihan yang rutin sejak enam bulan terakhir. “Pemecahan rekor
ORI ini bukan hanya ingin menunjukkan kesenian Cirebonan ke tingkat nasional
maupun internasional,” ujarnya kepada Radar Cirebon.
Menurutnya,
alasan sanggar yang berdiri Tahun 1992 ini menampilkan Tari Topeng Samba,
karena karakter Topeng Samba menggambarkan fase ketika manusia mulai memasuki
dunia kanak-kanak. Ini digambarkan dengan gerakan yang luwes, lincah dan lucu.
Gerakan
tariannya gesit dan menggambarkan seseorang yang tengah beranjak dewasa. Yang
periang, dan penuh suka cita, itulah sebabnya, kata dia, mengapa gerakan tari
topeng ini seperti kesusu (terburu-buru), mirip dengan perilaku dan kehidupan
seorang anak muda.
Selain tari
topeng, sanggar yang diasuhnya juga mengajarkan seni wayang wong, sintren,
drama tari, karawitan, gamelan kerenteng dan seni pertunjukan lainnya. “Kami
berharap, dengan pemecahan rekor ORI ini, generasi muda akan tertarik ikut
belajar seni tradisional Cirebon. Dan bagi anggota sanggar, akan
memotivasi hari lebih bersemangat melestarikannya,” jelasnya.
Plt Kadis
DKOKP Kota Cirebon Edi Bagja menambahkan, dengan pemecahan rekor ORI ini diharapkan
bisa menarik kita kunjungan wisatawan ke Kota Cirebon. Karena dengan ini bisa
menunjukkan, bahwa kesenian Cirebonan mampu bersaing. (gus)
TUJUAN PAGELARAN SENI TARI TOPENG
Pagelaran tari ini juga memiliki tujuan yang berbeda-beda. Secara garis besar, tujuan penyelenggaraan suatu Tari Topeng Cirebon telah dibagi menjadi tiga, diantaranya
Pagelaran
Komunal
Dilaksanakan
untuk kepentingan bersama. Keadaan ini memungkinkan seluruh masyarakat turut
berpartisipasi sehingga acara lebih meriah. Disertai dengan arak-arakan dalang,
atraksi seni dan sebagainya dengan durasi acara lebih dari satu malam.
Pagelaran
Individual
Pertunjukannya
lebih difokuskan untuk memeriahkan hajatan perorangan, seperti pernikahan,
khitanan dan lain sebagainya.
Pagelaran
Bebarangan
Ini adalah
pertunjukan tari keliling kampung yang inisiatifnya datang dari sang dalang
topeng. Biasanya dalang topeng datang ke wilayah-wilayah desa yang sudah panen
atau wilayah yang lebih ramai (kota). Hal ini dilakukan karena desa sang dalang
belum panen, mengalami kekeringan atau sedang sepi penduduknya.
Selebihnya,
pelaksanaan Tari Topeng Cirebon sangatlah beragam dan disesuaikan dengan gaya
tarian dari masyarakat suatu desa atau daerah yang memiliki tarian topeng yang
khas.
(Sumber dari
: https://www.google.com/amp/s/blogkulo.com/tari-topeng-cirebon/)
Sabtu, 21 Desember 2019
Tari Topeng Klana
Tari Topeng Klana
Kelana
artinya Kembara atau Mencari. Bahwa dalam hidup ini kita wajib berikhtiar.
Tidak ada yang tahu pasti siapa yang
pertama kali menciptakan tari topeng kelana. Yang pasti, tari ini sudah ada
sejak zaman Kerajaan Singasari. Hal tersebut salah satunya dibuktikan oleh
adanya catatan dalam Kitab Negara Kertagama yang menggambarkan Raja Hayam Wuruk
sedang menari dengan menggunakan topeng yang terbuat dari emas.
Dahulu tari
topeng kelana diyakini sebagai tari yang hanya dipentaskan di dalam lingkungan
kerajaan. Tari ini dibawakan oleh raja dan hanya dipertontonkan kepada
perempuan dalam lingkungan kerajaan, seperti para istri raja, mertua, hingga
ipar perempuan raja. Karenanya, dahulu tari topeng kelana dinilai lebih
bersifat spiritual daripada sebagai hiburan. Secara umum, tari topeng kelana
terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian baksarai dan ngedok. Baksarai
merupakan pementasan tari ketika belum mengenakan topeng, sedangkan ngedok
merupakan bagian saat para penari sudah mengenakan topeng. Tari topeng kelana
biasanya dipentaskan oleh laki-laki, tapi pakem tersebut telah berubah. Sejalan
dengan perkembangannya, kini perempuan juga banyak yang mementaskan tarian
topeng kelana. Tari topeng kelana biasa dipentaskan oleh 4-6 orang penari.
Gerakan dalam tari ini cenderung energik dan bersemangat, tapi tetap memerlukan
keluwesan untuk bisa mementaskannya. Dilihat dari gerakan dan topeng yang
dikenakan, tari ini merupakan penggambaran seseorang yang berperilaku buruk,
serakah, arogan layaknya tokoh Rahwana dalam pewayangan.
Banyak yang
percaya bahwa tari topeng kelana merupakan tari yang sudah ada di kalangan
istana raja-raja di Pulau Jawa sebelum kemudian berkembang di daerah Cirebon.
Di kalangan masyarakat Cirebon, tari topeng kelana
merupakan tari yang boleh dipentaskan oleh siapa saja. Fungsi tari ini menjadi
sarana hiburan. Dengan iringan musik gojing yang meriah dan bersemangat, tari
topeng kelana menjadi pementasan yang ciamik untuk ditonton.
Tari Topeng Cirebon adalah salah
satu tarian di tatar Parahyangan. Kesenian ini merupakan kesenian asli daerah
Cirebon, termasuk Indramayu, Jatibarang, Losari, dan Brebes. Di Cirebon, tari
topeng ini sendiri banyak sekali jenisnya, dalam hal gerakan maupun cerita yang
ingin disampaikan. Terkadang tari topeng dimainkan oleh saru penari tarian
tunggal, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa orang.
Salah satu jenis tari topeng yang
berasal dari Cirebon adalah Tari Topeng Klana. Tarian ini merupakan semacam
bagian lain dari tari topeng cirebon lainnya yaitu Tari Topeng Kencana Wungu.
Adakalanya kedua tari Topeng ini disajikan bersama, biasa disebut dengan Tari
Topeng Klana Kencana Wungu.
Tari Topeng Klana merupakan
rangkaian gerakan tari yang menceritakan Prabu Minakjingga (Klana) yang
tergila-gila pada kecantikan Ratu Kencana Wungu, hingga kemudian berusaha
mendapatkan pujaan hatinya. Namun upaya pengejarannya tidak mendapat hasil.
Kemarahan yang tak bisa lagi disembunyikannya kemudian membeberkan segala
tabiat buruknya.
Pada dasarnya, bentuk dan warna
topeng mewakili karakter atau watak tokoh yang dimainkan. Klana, dengan topeng
dan kostum yang didominasi warna merah mewakili karakter yang
tempramental. Dalam tarian ini, Klana yang merupakan orang yang
serakah, penuh amarah, dan tidak bisa menjaga hawa nafsu divisualisasikan dalam
gerakan langkah kaki yang panjang-panjang dan menghentak. Sepasang tangannya
juga terbuka, serta jari-jari yang selalu mengepal. Sebagian gerak tarinya
menggambarkan seseorang yang gagah, mabuk, marah, atau tertawa terbahak-bahak.
Tarian ini biasa dipadukan dengan irama Gonjing yang dilanjutkan dengan Sarung
Ilang. Pola pengadegan tarinya sama dengan topeng lainnya, terdiri atas
bagian baksarai (tari yang belum memakai
kedok) dan bagianngedok (tari yang memakai topeng).
Tepat sebelum bagian akhir tarian ini, penari biasanya berkeliling kepada tamu
yang datang untuk meminta uang. Ia berkeliling dengan mengasonkan topeng yang
dipakainya sebagai wadah uang pemberian penonton. Bagian ini disebut dengan
Ngarayuda atau Nyarayuda, simbol dari raja kaya raya yang masih tidak merasa
cukup dengan apa yang dimilikinya, hingga terus merampas sebanyak-banyaknya
harta rakyat kecil tanpa mempeduikan hak-haknya.
Sosok Rahwana dalam Tari Topeng Kelana
Tidak ada yang tahu pasti siapa yang
pertama kali menciptakan tari topeng kelana. Yang pasti, tari ini sudah ada
sejak zaman Kerajaan Singasari. Hal tersebut salah satunya dibuktikan oleh
adanya catatan dalam Kitab Negara Kertagama yang menggambarkan Raja Hayam Wuruk
sedang menari dengan menggunakan topeng yang terbuat dari emas.
Berdasarkan sumber tersebut, dahulu
tari topeng kelana diyakini sebagai tari yang hanya dipentaskan di dalam
lingkungan kerajaan. Tari ini dibawakan oleh raja dan hanya dipertontonkan
kepada perempuan dalam lingkungan kerajaan, seperti para istri raja, mertua,
hingga ipar perempuan raja. Karenanya, dahulu tari topeng kelana dinilai lebih
bersifat spiritual daripada sebagai hiburan. Secara umum, tari topeng kelana
terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian baksarai dan ngedok. Baksarai
merupakan pementasan tari ketika belum mengenakan topeng, sedangkan ngedok
merupakan bagian saat para penari sudah mengenakan topeng. Tari topeng kelana
biasanya dipentaskan oleh laki-laki, tapi pakem tersebut telah berubah.
Sejalan dengan perkembangannya, kini
perempuan juga banyak yang mementaskan tarian topeng kelana. Tari topeng kelana
biasa dipentaskan oleh 4-6 orang penari. Gerakan dalam tari ini cenderung
energik dan bersemangat, tapi tetap memerlukan keluwesan untuk bisa
mementaskannya. Dilihat dari gerakan dan topeng yang dikenakan, tari ini
merupakan penggambaran seseorang yang berperilaku buruk, serakah, arogan
layaknya tokoh Rahwana dalam pewayangan.
Banyak yang percaya bahwa tari
topeng kelana merupakan tari yang sudah ada di kalangan istana raja-raja di
Pulau Jawa sebelum kemudian berkembang di daerah Cirebon.Di kalangan masyarakat
Cirebon, tari topeng kelana merupakan tari yang boleh dipentaskan oleh siapa
saja. Fungsi tari ini menjadi sarana hiburan. Dengan iringan musik gojing yang
meriah dan bersemangat, tari topeng kelana menjadi pementasan yang ciamik untuk
ditonton.
Tari Topeng Rumyang
Tari Topeng Rumyang
Maknanya bahwa kita senantiasa mengharumkan nama Tuhan yaitu dengan Do’a dan dzikir Topeng Rumyang adalah sebuah tarian yang menggambarkan watak atau kepribadian seseorang manusia pada masa akhir balik, peralihan atau remaja yang menginjak dewasa (miyang/transisi).
Sedangkan dalam perspektif spiritualis arti dari nama Topeng Rumyang yaitu "RUM" yang berarti mengharumkan, dan "YANG" itu yang berarti Maha Esa. Manusia yang sedang mendalami esensi dari ajaran syariat yaitu sedang mencoba memahaminya lewat jalan yang lebih baik khusus yang dikenal dengan ajaran thoriqoh atau tarekat. Tahapan ini mulai memasuki maqom martabat insan.
Filosofinya adalah gambaran seorang manusia yang selalu mengagungkan asma Allah SWT dengan senantiasa beribadah dan berdzikir.
Dari makna warna Topeng Rumyang = Hijau Melambangkan keluhuran budi pekerti
Kedok topeng Rumyang sewanda dengan
Pamindo, namun tanpa hiasan rambut. Seperti juga kedok Pamindo, di
tengah-tengah dahinya terdapat hiasan rerengu atau rengu batuk mimi, yang
disambung dengan hiasan pilis yang melingkar di kedua sisi pipi sampai ke
bagian pipi bawah.
Warna kedoknya merah jambu, namun ada juga yang berwarna coklat muda. Karakter kedoknya sama dengan kedok Pamindo, yakni genit, lincah, atau ganjen. Jika disejajarkan dengan karakter tokoh wayang (golek atau kulit), kedok ini sama dengan Dipatikarna.
Raut wajahnya membersitkan keceriaan, dan hal ini dapat dilihat dari bentuk mulutnya yang senantiasa menyiratkan seseorang dengan senyuman manisnya. Dalam struktur pertunjukan topeng Cirebon, kedok ini ditarikan pada bagian ketiga sebagai kelanjutan dari topeng Pamindo, namun ada pula yang ditarikan paling akhir.
Warna kedoknya merah jambu, namun ada juga yang berwarna coklat muda. Karakter kedoknya sama dengan kedok Pamindo, yakni genit, lincah, atau ganjen. Jika disejajarkan dengan karakter tokoh wayang (golek atau kulit), kedok ini sama dengan Dipatikarna.
Raut wajahnya membersitkan keceriaan, dan hal ini dapat dilihat dari bentuk mulutnya yang senantiasa menyiratkan seseorang dengan senyuman manisnya. Dalam struktur pertunjukan topeng Cirebon, kedok ini ditarikan pada bagian ketiga sebagai kelanjutan dari topeng Pamindo, namun ada pula yang ditarikan paling akhir.
Di kalangan
dalang topeng Cirebon, kata Rumyang dianggap berasal dari
kata ramyang-ramyang, yang artinya mulai terang, yakni suatu
perubahan alam dari malam hari ke siang hari, atau sebaliknya. Ramyang-ramyang identik
dengan suasana carangcang tihang (Sunda) yakni saat fajar mulai
menyingsing. Rumyang (Menggambarkan kehidupan seorang remaja pada masa akil
baligh). Kedok topeng Rumyang sewanda dengan Pamindo, namun tanpa hiasan
rambut. Seperti juga kedok Pamindo, di tengah-tengah dahinya terdapat hiasan
rerengu atau rengu batuk mimi, yang disambung dengan hiasan pilis yang
melingkar di kedua sisi pipi sampai ke bagian pipi bawah. Warna kedoknya merah
jambu, namun ada juga yang berwarna coklat muda. Karakter kedoknya sama dengan
kedok Pamindo, yakni genit, lincah, atau ganjen. Jika disejajarkan dengan
karakter tokoh wayang (golek atau kulit), kedok ini sama dengan Dipatikarna.
Raut wajahnya membersitkan keceriaan, dan hal ini dapat dilihat dari bentuk
mulutnya yang senantiasa menyiratkan seseorang dengan senyuman manisnya. Dalam
struktur pertunjukan topeng Cirebon, kedok ini ditarikan pada bagian ketiga
sebagai kelanjutan dari topeng Pamindo, namun ada pula yang ditarikan paling
akhir. Tari topeng Rumyang berasal dari kata ramyang-ramyang yang artinya mulai
terang. Tari ini menggambarkan seseorang yang mulai dewasa dan tahu arti
kehidupan. Gerakan tarinya lincah dan riang. Kedoknya berwarna merah muda atau
jingga sebagai lambing peralihan dari masa remaja menuju masa dewasa. Iringan
lagu rumyang atau kembang kapas atau buncis. Penarinya memakai pakaian berwarna
merah muda atau jingga dan memakai kain lancar gelar. Tarian ini mempunyai
makna menyucikan diri demi keselamatan kita
Jumat, 20 Desember 2019
Tari Topeng Tumenggung
Tari Topeng Tumenggung
Tari Topeng
Temenggung Simbol Ksatria yang Berwibawa. Istilah Tumenggung sebagai
GelarKebangsawanan BupatiDi Jawa bagian Barat, selain pangeran,adipati, atau
aria, istilah tumenggungmenunjuk juga kepada gelar yang dipakaioleh umumnya
yang berkedudukan bupati(Lubis, 2000: 315-320). Bersangkut-pautdengan hal ini
pada masa lampau dikenalnama-nama seperti: R. Tmg. Wiranata-kusumah, R. Tmg.
Wiraminangun, R. Tmg.Ardi-kusumah, R. Tmg. Anggadire ja(Bandung), R. Tmg.
Suriadilaga dan Tmg.Aria Suria Kusumah Adinata (Sumedang),R. Tmg. Wiradadaha
dan R. Tmg. Sacapati(Sukapura/Tasik-malaya), R. Tmg. Wira-ne gara (Cianjur), R.
Tmg. Jaye ngpatiKertanegara, R Tmg. Natanagara, R. Tmg.Wiradikusumah, R. Tmg.
Aria Sunarya(Galuh/Ciamis), R. Tmg. Wangsareja, R.Tmg. Wangsadireja
(Limbangan/Garut) Dalam suatu rangkaian penyajianTopeng Cirebon, Tari
Tumenggung biasanyaditempatkan pada urutan ke empat yaitusetelah Panji,
Pamindo, dan Rumiang.Mengikuti pola penyajian tersebut, TariTumenggung dibagi
ke dalam tigaadegan,yaitu: 1) tahapdodoan); 2) tahapunggahtengah; dan 3)
tahapdeder.Khusus padatahapunggah tengahtokoh Tumenggungtampil duet bersama
tokoh Jinggananom,dan kedua-nya terlibat dalam suatu dialogyang dilanjutkan
dengan adu kekuatan.
Cirebon merupakan salah satu daerah
yang kuat akan budaya keseniannya termasuk Seni Tari, setiap daerah mempunyai
ciri khas Tari yang berbeda dengan daerah lainnya. Salah satunya adalah tari
topeng Tumenggung.Tari Topeng Tumenggung, melambangkan kehidupan manusia yang
sudah menemukan jati dirinya dan sudah dapat membedakan sifat yang baik dan
buruk, dan mempunyai prinsip. Tari Topeng Tumenggung menggambarkan Manusia
yang berkuasa atas dirinya sendiri, tidak ada larangan dari siapapun terkecuali
dari dalam dirinya yang berasal dari kesadaran sepiritual berupa etika dan
agama. filsafat kehidupan yang menggambarkan sisi lain dari diri setiap
manusia.Pakaian serba hitam, mengikuti iringan lagu gamelan menjadi sebuah
persembahan penari di daerah Cirebon, Jawa Barat. Mengenakan celana sebatas
lutut dan penutup kepala atau yang disebut sobra sebagai hiasan yang melekat di
kepala. Topeng merah dengan kumis tebal memperlihatkan karakter yang gagah juga
berwibawa. Itulah kira-kira gambaran tari Topeng Temenggung, sebuah tari yang
menceritakan ksatria berjiwa arif juga budiman.Tari Topeng Temenggung merupakan
salah satu dari lima tari topeng Cirebon, selain Tari Topeng Panji, Tari Topeng
Samba, Tari Topeng Rumyang, dan Tari Topeng Kelana. Kelima tari topeng Cirebon
tersebut memiliki karakter dan unsur yang berbeda-beda saat dipentaskan.Khusus
Tari Temenggung, tari ini menceritakan sebuah ksatria yang gagah berani
berperang melawan angkara murka. Sosok ksatria tersebut disimbolkan oleh
Temenggung, yaitu seorang Adipati dari Magadiraja yang berjiwa pemberani,
dihadapkan oleh sang perusuh yang bernama Jinggaanom.Dalam gerakan Tari
Temenggung, tubuh sang penari terlihat tegap juga elegan. Ini melambangkan sang
penari tengah menjadi ksatria yang gagah dan tangkas. Gerakan punggung dan
tangan sangat tegas, memperlihatkan tarian ini adalah tarian yang melambangkan
seorang ksatria. Walaupun melambangkan ksatria yang gagah, namun tidak jarang
tari ini di bawakan oleh kaum wanita.Tari Topeng Tumenggung diiringi oleh musik
gamelan yang dipadukan dengan gendang. Sementara lagu yang biasa digunakan
untuk mengiringi pementasan adalah lagu temenggungan, barendodoan, dan
barenkering. Tari tradisional Cirebon ini biasa dipentaskan baik secara
perorangan maupun kelompok.Pakaian serba hitam, mengikuti iringan lagu gamelan
menjadi sebuah persembahan penari di daerah Cirebon, Jawa Barat. Mengenakan
celana sebatas lutut dan penutup kepala atau yang disebut sobra sebagai hiasan
yang melekat di kepala. Topeng merah dengan kumis tebal memperlihatkan karakter
yang gagah juga berwibawa. Itulah kira-kira gambaran tari Topeng Temenggung,
sebuah tari yang menceritakan ksatria berjiwa arif juga budiman.Tari Topeng
Temenggung merupakan salah satu dari lima tari topeng Cirebon, selain Tari
Topeng Panji, Tari Topeng Samba, Tari Topeng Rumyang, dan Tari Topeng Kelana.
Kelima tari topeng Cirebon tersebut memiliki karakter dan unsur yang
berbeda-beda saat dipentaskan.Khusus Tari Temenggung, tari ini menceritakan
sebuah ksatria yang gagah berani berperang melawan angkara murka. Sosok ksatria
tersebut disimbolkan oleh Temenggung, yaitu seorang Adipati dari Magadiraja
yang berjiwa pemberani, dihadapkan oleh sang perusuh yang bernama
Jinggaanom.Dalam gerakan Tari Temenggung, tubuh sang penari terlihat tegap juga
elegan. Ini melambangkan sang penari tengah menjadi ksatria yang gagah dan
tangkas. Gerakan punggung dan tangan sangat tegas, memperlihatkan tarian ini
adalah tarian yang melambangkan seorang ksatria. Walaupun melambangkan ksatria
yang gagah, namun tidak jarang tari ini di bawakan oleh kaum wanita.Tari Topeng
Tumenggung diiringi oleh musik gamelan yang dipadukan dengan gendang. Sementara
lagu yang biasa digunakan untuk mengiringi pementasan adalah lagu temenggungan,
barendodoan, dan barenkering. Tari tradisional Cirebon ini biasa dipentaskan
baik secara perorangan maupun kelompok.Bagi masyarakat Cirebon, topeng dianggap
sakral. Selain sebagai simbol dari tanggung jawab, topeng juga dianggap sebagai
jati diri seseorang.
Tari (Topeng) Tumenggung sebagaikarya seni masa lampau
telah turut mene-gaskan salah satu fungsi seni, yaitu fungsikomunikasikhususnya
pada tataranpro-methean,yaitu seni yang dapat mening-katkan moralitas,
filsafat, dan pengetahuanmanusia (Morawski dalam: Liang Gie, 1996:50-51).Topeng
Cirebon yang sekarang dicapsebagai kesenian tradisional dan kentalpakem pada
kenyataannya merupakanhasil perubahan secara terus-menerus olehtangan-tangan
terampil (para creator)masalampau. Berdasar pada anggapan tersebutkiranya dapat
ditegas-kan kembali bahwayang dikatakan kebudayaan (kesenian)tradisional itu
adalah dinamis, jelasnyasenantiasa berubah, sehingga sulit untukdite lusuri
mana s e sungguhnya yangdise but ‘asli’ itu. Ge jala-ge jala yangsekarang
dikatakan tradisional boleh jadimerupakan hasil transformasi pada masalampau,
dan gejala-gejala yang pada masalampau dikatakan tradisional, juga bolehjadi
merupakan hasil transformasi padamasa sebelumnya. Seniman pinggiran yangdipandang
rendahan ternyata memilikiketajaman di dalam membaca situasi sosial,serta
memiliki ke mampuan di dalammengekspresikan lewat simbol-simbol seni.Untuk
keperluan penyampaian pesan(unek-unek) dan kebutuhan hajat hidup,seniman lampau
‘terpaksa’ untuk mela-kukan perubahan terhadap sesuatu yangditerima dari
leluhurnya.Sebagai kata akhir, dari perspektif ke-ilmuan seni,Tari
Tumenggungyang munculsejak masa kolonial tergolong ke dalamparodi dan masuk
dalam bingkai post-modern. Bersandar pada anggapan tersebutbilamana pengertian
posmodern berfokuspada kode ganda, maka pos-modernismesesungguhnya sudah lama
muncul padadunia seni pertunjukan masa lampau.
Dal am ce ri ta Damarwulan
sangatmungki n Tari Pamind o menggambarkantokoh-tokoh Kencanawungu, Damarwulan,atau
Anjasmara; Tari Rumiang menggam-barkan Layang Seta atau Layang Kumitir, danTari
Tumenggung menggambarkan PatihLogender.2Di Slangit, Tari Topeng Tumenggung
biasad ise but ‘tari pe cian’. Pe rtunj ukan pad aperayaanhajatan biasanya
diselingi olehbri-manan ataunyarayuda.3Raja kecil memiliki arti konotatif
yaitupenguasa.4Periksa Lubis(1998:190).5Sampai sekarang habitat topeng
adalahwilayah pinggiran seperti: Slangit, Gegsik,Losari, dll.6Mengenai istilah
gambuh ini rupa-rupa-nya terjadi pergeseran arti. Menurut Poerba-tjaraka (1968:
43) Gambuh (Gambuh WargaAsmara) adalah Candra Kirana yang menya-mar sebagai
laki-laki untuk mengadakan per-tunjukan di kota Gegelang dalam Cerita
Panji.7Periksa Nugraha(1982-1983:45)8Negeri (Tumenggungan) Jongjola itu(semula)
adalah bawahan Bawarna, tetapikemudian Jinggananom ingin merdeka, memi-liki
kedaulatan sendiri, dan karena itu ia taklagi melakukanseba atau mengirim upeti
keBawarna (periksa Suanda dalam Nalan, ed.1996:30).9Diketahui lebih lanjut
tokoh Jinggananomtidak ditarikan oleh ’penari’ melainkan olehpenabuh gamelan
yang secara praktis tidakterampil dalam menari.10Periksa Nurwara, 2012:
Penyajian TariTopeng Tumenggung Perang JinggananomCirebon Gaya Slangit . STSI
Bandung th, 2012hlm. 125-127.
Fungsi Tari Topeng Panji
Fungsi Tari
Topeng Panji
Adapun tari
topeng panji ini digunakan untuk menghadirkan kekuatan semesta – semesta
yang paradoksal. Dengan tarian ini sobat, maka asas – asas paradoksal
tersebut kelaki – lakian dan keperempuanan akan dihadirkan. Selain itu
sobat, dewa pencipta itu sendiri akan hadir lewat mitos dan juga lambing panji
ini.
Panji
tersebut adalah paradoks itu sendiri. Ia sendiri bersifat laki laki dan juga
bersifat perempuan bak seperti matahari dan juga bulan. Ia juga digambarkan
seperti siang dan malam, langit dan tanah, ia juga kasar dan halus, ia juga
nampak dan tidak nampak, ia hidup dan mati, ia masa lampau dan masa datang,
waktu dan ruang sendiri adalah paradoks dalam diri dewa ini.
Oleh karena
itulah sobat, cerita topeng Panji ini masih dinaggap mistis hingga sekarang
ini. Gerakan tari topeng panji ini cenderung pelan dan lembut dan lebih banyak
diam. Hal ini bertujuan untuk roh yang diundang agar masuk ke penarinya.
Itulah ulasan mengenai tari topeng
panji yang bisa penulis share pada postingan kali ini ya sobat. Semoga membawa
banyak manfaat bagi sobat semua. Sampai jumpa di lain kesempatan dan salam
hangat selalu dari penulis.
Sejarah Tari Topeng Panji
Kedoknya
berwarna putih. Matanya liyep, pandangannya merunduk dan senyumnya dikulum.
Raut wajahnya (wanda) menunjukan seorang yang alim, tuturkatanya lemah-lembut
dan gerakannya halus. Dalam topeng Cirebon kedok ini ditarikan dalam karakter
alusan (halus) seperti halnya tokoh Arjuna dalam cerita wayang. Tariannya
menggambarkan seseorang yang berbudi luhur, penuh kesabaran dan tahan atas
segala godaan. Ini tercermin dari iringannya (musik) yang bertolak belakang
(kontras) dengan tariannya. Tari topeng Panji adalah tarian paradoks.
Menurut Endo
Suanda, inilah tarian paling halus dengan langkah-langkah minimalis lebih
banyak yang menampilkan gerak “diam yang dinamis”. Teknik gerakan jauh dari
spektakuler, nyaris monoton dan “kurang menarik” bagi penonton awam. Meskipun
demikian, tarian ini justru yang paling sukar ditarikan, karena diperlukan
disiplin keras, penahanan diri, memakan tenaga, sangat serius, dan amat tertib
sejak awal. Meskipun tarian ini merupakan tarian pertama, justru tarian ini
dipelajari oleh para penarinya dalam tahap-tahap akhir, karena persyaratan
tariannya yang demikian ketat. Bagian-bagian gerak tari Panji ini akan diulang
dalam keempat tarian yang kemudian menyusul. Lagu yang mengiringinya disebut
Kembang Sungsang, merupakan lagu terpanjang dan tersulit dimainkan. Iringan
lagu ini sering tampil kontras dengan gerak tariannya. Irama cepat dan bunyi keras, disambut gerak tari yang amat
minim, bahkan hampir tanpa gerak.
Awal Mula Tari Topeng Cirebon
Indonesia
sudah terkenal dengan kebudayaan yang beraneka ragam yang ada di seluruh
propinsi yang ada. Salah satu kebudayaan itu adalah seni tari. Seni tari setiap
daerah mempunyai ciri khas yang berbeda dengan daerah lainnya. Salah satunya
adalah tari topeng Cirebonan.
Tari topeng Cirebonan ini ternyata salah satu seni yang berisi hiburan juga mengandung simbol-simbol yang melambangkan berbagai aspek kehidupan seperti nilai kepemimpinan, kebijaksanaan, cinta bahkan angkara murka serta menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak dilahirkan hingga menginjak dewasa. Dalam hubungan ini maka seni tari topeng ini dapat digunakan sebagai media komunikasi yang sangat positif sekali.
Pada masa itu dimana Cirebon sebagai pusat penyebaran agama Islam, Sunan Gunung Jati bekerja sama dengan Sunan Kalijaga menggunakan tari topeng ini sebagai salah satu upaya untuk menyebarkan agama Islam dan sebagai hiburan di lingkungan keraton.
Sebenannya tari topeng ini sudah ada jauh sejak abad 10-11 M yaitu pada masa pemerintahan Raja Jenggala di Jawa Timur yaitu Prabu Panji Dewa. Melalui seniman jalanan seni tari topeng ini masuk ke Cirebon dan mengalami akulturasi dengan kebudayaan setempat. Ternyata dalam perkembangannya disebut dengan Topeng Babakan atau dinaan yaitu berupa penampilan 5 atau 9 topeng dari tokoh-tokoh cerita panji.
Topeng ini berasal dari kata Taweng yang berarti tertutup atau menutupi, sedangkan pendapat lainnya mengatakan bahwa topeng berarti penutup muka atau kedok.Dengan demikian tari topeng ini dapat diartikan sebagai seni tari yang menggunakan penutup muka berupa topeng atau kedok oleh para penari pada waktu pementasannya.
Unsur-unsur yang terdapat pada seni tari topeng mengandung simbol-simbol dan penuh dengan pesan terselubung, baik dari warna kedok, jumlah kedok, jumlah gamelan pengiring dan lainnya.Jumlah topeng keseluruhannya ada 9 buah yaitu panji, samba atau pamindo, rumyang, tumenggung atau patih, kelana atau rahwana, pentul, nyo atau sembelep, jingananom dan aki-aki.Topeng yang dijadikan topeng pokok ada lima buah yaitu panji, samba, rumyang, tumenggung dan kelana, sedangkan keempat kedok lainnya digunakan apabila dibuat cerita atau lakon seperti Jaka Blowo, Panji Blowo, Panji Gandrung dan lainnya.Kelima kedok itu disebut dengan Topeng Panca Wanda yang artinya topeng lima profil.
Nah, setelah kita tahu sejarah dari tari topeng ini jangan sampai kita sebagai orang Indonesia atau penduduk kota Cirebon sama sekali tidak mengetahui seni tari khas daerahnya sendiri.Mudah-mudahan generasi muda bisa melesterikan kekayaan budaya sendiri jangan sampai budaya kita dicaplok oleh negara lain.Kebetulan saya sangat menyukai tari karena dari kecil saya sudah menari dan sekarang diturunkan kesenangan ini oleh anak saya. Tia, anak saya sudah menguasai banyak tari sunda dan sekarang dia lagi mempelajari tari topeng cirebonan, dan sudah menguasai 3 jenis tari topeng yaitu topeng panj,samba dan kelana.Mudah-mudahan generasi muda kita jangan terpesona dengan budaya luar yang kita anggap wah, padahal budaya kita juga tidak kalah bagusnya. Gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, serta iringan musik yang didominasi oleh kendang dan rebab, merupakan ciri khas lain dari tari topeng. Kesenian Tari Topeng ini masih eksis dipelajari di sanggar-sanggar tari yang ada, dan masih sering dipentaskan pada acara-acara resmi daerah, ataupun pada momen tradisional daerah lainnya. Salah satu maestro tari topeng adalah Mimi Rasinah, yang aktif menari dan mengajarkan kesenian Tari Topeng di sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah yang terletak di desa Pekandangan, Indramayu, Indramayu.[24] Sejak tahun 2006 Mimi Rasinah menderita lumpuh, tetapi ia masih tetap bersemangat untuk berpentas, menari dan mengajarkan tari topeng hingga akhir hayatnya, Mimi Rasinahwafat pada bulan Agustus 2010 pada usia 80 tahun.
Tari topeng Cirebonan ini ternyata salah satu seni yang berisi hiburan juga mengandung simbol-simbol yang melambangkan berbagai aspek kehidupan seperti nilai kepemimpinan, kebijaksanaan, cinta bahkan angkara murka serta menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak dilahirkan hingga menginjak dewasa. Dalam hubungan ini maka seni tari topeng ini dapat digunakan sebagai media komunikasi yang sangat positif sekali.
Pada masa itu dimana Cirebon sebagai pusat penyebaran agama Islam, Sunan Gunung Jati bekerja sama dengan Sunan Kalijaga menggunakan tari topeng ini sebagai salah satu upaya untuk menyebarkan agama Islam dan sebagai hiburan di lingkungan keraton.
Sebenannya tari topeng ini sudah ada jauh sejak abad 10-11 M yaitu pada masa pemerintahan Raja Jenggala di Jawa Timur yaitu Prabu Panji Dewa. Melalui seniman jalanan seni tari topeng ini masuk ke Cirebon dan mengalami akulturasi dengan kebudayaan setempat. Ternyata dalam perkembangannya disebut dengan Topeng Babakan atau dinaan yaitu berupa penampilan 5 atau 9 topeng dari tokoh-tokoh cerita panji.
Topeng ini berasal dari kata Taweng yang berarti tertutup atau menutupi, sedangkan pendapat lainnya mengatakan bahwa topeng berarti penutup muka atau kedok.Dengan demikian tari topeng ini dapat diartikan sebagai seni tari yang menggunakan penutup muka berupa topeng atau kedok oleh para penari pada waktu pementasannya.
Unsur-unsur yang terdapat pada seni tari topeng mengandung simbol-simbol dan penuh dengan pesan terselubung, baik dari warna kedok, jumlah kedok, jumlah gamelan pengiring dan lainnya.Jumlah topeng keseluruhannya ada 9 buah yaitu panji, samba atau pamindo, rumyang, tumenggung atau patih, kelana atau rahwana, pentul, nyo atau sembelep, jingananom dan aki-aki.Topeng yang dijadikan topeng pokok ada lima buah yaitu panji, samba, rumyang, tumenggung dan kelana, sedangkan keempat kedok lainnya digunakan apabila dibuat cerita atau lakon seperti Jaka Blowo, Panji Blowo, Panji Gandrung dan lainnya.Kelima kedok itu disebut dengan Topeng Panca Wanda yang artinya topeng lima profil.
Nah, setelah kita tahu sejarah dari tari topeng ini jangan sampai kita sebagai orang Indonesia atau penduduk kota Cirebon sama sekali tidak mengetahui seni tari khas daerahnya sendiri.Mudah-mudahan generasi muda bisa melesterikan kekayaan budaya sendiri jangan sampai budaya kita dicaplok oleh negara lain.Kebetulan saya sangat menyukai tari karena dari kecil saya sudah menari dan sekarang diturunkan kesenangan ini oleh anak saya. Tia, anak saya sudah menguasai banyak tari sunda dan sekarang dia lagi mempelajari tari topeng cirebonan, dan sudah menguasai 3 jenis tari topeng yaitu topeng panj,samba dan kelana.Mudah-mudahan generasi muda kita jangan terpesona dengan budaya luar yang kita anggap wah, padahal budaya kita juga tidak kalah bagusnya. Gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, serta iringan musik yang didominasi oleh kendang dan rebab, merupakan ciri khas lain dari tari topeng. Kesenian Tari Topeng ini masih eksis dipelajari di sanggar-sanggar tari yang ada, dan masih sering dipentaskan pada acara-acara resmi daerah, ataupun pada momen tradisional daerah lainnya. Salah satu maestro tari topeng adalah Mimi Rasinah, yang aktif menari dan mengajarkan kesenian Tari Topeng di sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah yang terletak di desa Pekandangan, Indramayu, Indramayu.[24] Sejak tahun 2006 Mimi Rasinah menderita lumpuh, tetapi ia masih tetap bersemangat untuk berpentas, menari dan mengajarkan tari topeng hingga akhir hayatnya, Mimi Rasinahwafat pada bulan Agustus 2010 pada usia 80 tahun.














