ANGGOTA KELOMPOK

Ega Tegar S,Heni Erdiani,Putri Lestari,Bapak Elang Komarahadi,Nisa ,Rhatna .

SANGGAR SENI TARI PANDAN

Jl. Jagasatru ,Pulasaren, Kec.Pekalipan, Kota Cirebon, Jawa Barat 45116.

Logo Sanggar Seni Sekar Pandan

Jl. Jagasatru ,Pulasaren, Kec.Pekalipan, Kota Cirebon, Jawa Barat 45116.

Ketua Sanggar Seni Sekar Pandan

Bapak Elang Komarahadi.

Macam-Macam Topeng

Beberapa Foto Topeng.

Tampilkan postingan dengan label sekar pandan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekar pandan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Januari 2020

Yuk Belajar di Sanggar Seni Sekar Pandan




CIREBON--Bagi kalian kalangan pelajar atau remaja yang ingin belajar dan memperdalam kesenian Cirebon, bisa memulai belajar di Sanggar Seni Sekar Pandan yang ada di Komplek Keraton Kacirebonan Kota Cirebon Jawa Barat. Pembina Sanggar Seni Sekar Pandan di Keraton Kacirebonan Kota Cirebon Heri Komara Hadi (Elang Heri) mengatakan pembelajaran kesenian Cirebon di Sanggar Sekar Pandan dimulai dari tingkat dasar atau untuk pemula. Dia menuturkan kesenian Cirebon yang diajarkan di Sanggar Seni Sekar Pandan mulai dari seni tari Cirebon seperti tari topeng, sintren dan drama wayang uwong (wayang orang). “Jika berminat belajar kesenian Cirebon bisa datang ke sekretariat Sanggar Seni Sekar Pandan di Komplek Keraton Kacirebonan,” katanya ketika dihubungi bisnis-jabar.com, Jumat (4/10/2013). Heri mengungkapkan peserta didik Sanggar Seni Sekar Pandan nantinya diberikan sarana mengekspresikan diri melalui pentas seni bulanan yang digelar rutin tiap bulan. Info lebih lanjut mengenai Sanggar Seni Sekar Pandan bisa datang langsung ke sekretariat di Komplek Keraton Kacirebonan (Elang Heri CP: 085295996636), atau mengikuti akun resminya di @SEKARPANDANcrb. (k3/k29)


25 Tahun Sanggar Seni Sekar Pandan, Tampilkan Tari Topeng Medley Lima Wanda



PILARBERITA,KOTA CIREBON – Sanggar Seni Sekarpandan yang berlokasi di lingkungan keraton kacirebonan Cirebon sudah menginjak usianya yang ke 25 tahun sanggar seni sekarpandan mengadakan berbagai rangkaian ulang tahun di tahun 2017 dengan menggelar ark-arakan seni budaya Cirebon serta pagelaran seni tari kreasi Tradisional, Medley tari Topeng lima Wanda serta penampilan Wayang Wong yang dibawakan oleh murid dari sanggar seni sekar pandan Kota Cirebon, Minggu (7/5/2017). Malam
Dalam Prosesi ulang tahun yang di gelar minggu malam kemaren, di alun-alun keraton kacirebonan Cirebon yang dihadiri Sultan Kacirebonan IX Pangeran Raja Abdul Gani Natadiningrat beserta Istri serta dihadiri dari pihak Disporbudpar kota Cirebon dan Seniman Budayawan Cirebon.
Sultan Kacirebonan IX Pangeran Raja Abdul Gani Natadiningrat mengatakan bahwa pihaknya sangat mengapresiasi adanya sanggar seni sekarpandan ini yang mana sudah melestarikan dan mengembangkan seni budaya Cirebon, untuk itu pihaknya sangat mengapresiasi adanya sanggar seni sekar pandan ini.
Sementara itu pimpinan Sanggar Sekar Pandan Elang Heri Komalahadi mengatakan Sanggar Seni Sekar Pandan adalah sebuah Sanggar yang berlokasi di Kompleks Keraton Kacirebonan, di jalan Pulasaren Kota Cirebon. Sanggar Seni Sekar Pandan berdiri pada tahun 1992, dan di kelola oleh putra putri daerah Keraton Kacirebonan.
Sampai sekarang Sanggar Seni Sekar Pandan telah melatih ratusan anak didik dan juga menjadi pusat pelestarian Seni dan Budaya Cirebon. Sanggar Seni Sekar Pandan juga telah banyak mendidik mahasiswa asing dan seniman-seniman asing dari berbagai negara.
Heri menambahkan Selain membuka kegiatan pelatihan di dalam sanggar, Kami juga mengadakan kerjasama dengan sekolah-sekolah dalam kegiatan pengembangan kesenian tradisional mulai dari tingkat taman Kanak-kanak sampai dengan tingkat Perguruan Tinggi.(Jums)

Wow..Sanggar Sekar Pandan akan Pecahkan Rekor ORI


CIREBON-Kesenian tradisional Kota Cirebon terkenal memiliki keunikan dan keunggulan dibandingkan dengan daerah lainnya. Hanya diperlukan pengenalan dan promosi agar kesenian tersebut mendapatkan apresiasi berupa kunjungan wisatawan.
Atas hal itu, hari ini di Halaman Keraton Kacirebonan, Sanggar Sekar Pandan akan menggelar pemecahan rekor Original Rekor Indonesia (ORI). Dengan menyajikan Rampak Topeng Samba berkolaborasi dengan Seni Jaran Larad.
Ketua Sanggar Sekar Pandan Elang Heri Komara Hadi mengatakan, sedikitnya 270 penari akan memecah rekor ORI. Dengan Tarian Topeng Samba dan Jaran Larad. Persiapan anak didiknya sudah maksimal, dengan latihan yang rutin sejak enam bulan terakhir. “Pemecahan rekor ORI ini bukan hanya ingin menunjukkan kesenian Cirebonan ke tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya kepada Radar Cirebon.
Menurutnya, alasan sanggar yang berdiri Tahun 1992 ini menampilkan Tari Topeng Samba, karena karakter Topeng Samba menggambarkan fase ketika manusia mulai memasuki dunia kanak-kanak. Ini digambarkan dengan gerakan yang luwes, lincah dan lucu.
Gerakan tariannya gesit dan menggambarkan seseorang yang tengah beranjak dewasa. Yang periang, dan penuh suka cita, itulah sebabnya, kata dia, mengapa gerakan tari topeng ini seperti kesusu (terburu-buru), mirip dengan perilaku dan kehidupan seorang anak muda.
Selain tari topeng, sanggar yang diasuhnya juga mengajarkan seni wayang wong, sintren, drama tari, karawitan, gamelan kerenteng dan seni pertunjukan lainnya. “Kami berharap, dengan pemecahan rekor ORI ini, generasi muda akan tertarik ikut belajar seni tradisional Cirebon.  Dan bagi anggota sanggar, akan memotivasi hari lebih bersemangat melestarikannya,” jelasnya.
Plt Kadis DKOKP Kota Cirebon Edi Bagja menambahkan, dengan pemecahan rekor ORI ini diharapkan bisa menarik kita kunjungan wisatawan ke Kota Cirebon. Karena dengan ini bisa menunjukkan, bahwa kesenian Cirebonan mampu bersaing. (gus)



TUJUAN PAGELARAN SENI TARI TOPENG



Pagelaran tari ini juga memiliki tujuan yang berbeda-beda. Secara garis besar, tujuan penyelenggaraan suatu Tari Topeng Cirebon telah dibagi menjadi tiga, diantaranya 

Pagelaran Komunal
Dilaksanakan untuk kepentingan bersama. Keadaan ini memungkinkan seluruh masyarakat turut berpartisipasi sehingga acara lebih meriah. Disertai dengan arak-arakan dalang, atraksi seni dan sebagainya dengan durasi acara lebih dari satu malam.

Pagelaran Individual
Pertunjukannya lebih difokuskan untuk memeriahkan hajatan perorangan, seperti pernikahan, khitanan dan lain sebagainya.

Pagelaran Bebarangan
Ini adalah pertunjukan tari keliling kampung yang inisiatifnya datang dari sang dalang topeng. Biasanya dalang topeng datang ke wilayah-wilayah desa yang sudah panen atau wilayah yang lebih ramai (kota). Hal ini dilakukan karena desa sang dalang belum panen, mengalami kekeringan atau sedang sepi penduduknya.
Selebihnya, pelaksanaan Tari Topeng Cirebon sangatlah beragam dan disesuaikan dengan gaya tarian dari masyarakat suatu desa atau daerah yang memiliki tarian topeng yang khas.

(Sumber dari : https://www.google.com/amp/s/blogkulo.com/tari-topeng-cirebon/)

Sabtu, 21 Desember 2019

Tari Topeng Klana


                                                                                                                                  Tari Topeng Klana


Kelana artinya Kembara atau Mencari. Bahwa dalam hidup ini kita wajib berikhtiar.
Tidak ada yang tahu pasti siapa yang pertama kali menciptakan tari topeng kelana. Yang pasti, tari ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Singasari. Hal tersebut salah satunya dibuktikan oleh adanya catatan dalam Kitab Negara Kertagama yang menggambarkan Raja Hayam Wuruk sedang menari dengan menggunakan topeng yang terbuat dari emas.
Dahulu tari topeng kelana diyakini sebagai tari yang hanya dipentaskan di dalam lingkungan kerajaan. Tari ini dibawakan oleh raja dan hanya dipertontonkan kepada perempuan dalam lingkungan kerajaan, seperti para istri raja, mertua, hingga ipar perempuan raja. Karenanya, dahulu tari topeng kelana dinilai lebih bersifat spiritual daripada sebagai hiburan. Secara umum, tari topeng kelana terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian baksarai dan ngedok. Baksarai merupakan pementasan tari ketika belum mengenakan topeng, sedangkan ngedok merupakan bagian saat para penari sudah mengenakan topeng. Tari topeng kelana biasanya dipentaskan oleh laki-laki, tapi pakem tersebut telah berubah. Sejalan dengan perkembangannya, kini perempuan juga banyak yang mementaskan tarian topeng kelana. Tari topeng kelana biasa dipentaskan oleh 4-6 orang penari. Gerakan dalam tari ini cenderung energik dan bersemangat, tapi tetap memerlukan keluwesan untuk bisa mementaskannya. Dilihat dari gerakan dan topeng yang dikenakan, tari ini merupakan penggambaran seseorang yang berperilaku buruk, serakah, arogan layaknya tokoh Rahwana dalam pewayangan.
Banyak yang percaya bahwa tari topeng kelana merupakan tari yang sudah ada di kalangan istana raja-raja di Pulau Jawa sebelum kemudian berkembang di daerah Cirebon.
Di kalangan masyarakat Cirebon, tari topeng kelana merupakan tari yang boleh dipentaskan oleh siapa saja. Fungsi tari ini menjadi sarana hiburan. Dengan iringan musik gojing yang meriah dan bersemangat, tari topeng kelana menjadi pementasan yang ciamik untuk ditonton.
Tari Topeng Cirebon adalah salah satu tarian di tatar Parahyangan. Kesenian ini merupakan kesenian asli daerah Cirebon, termasuk Indramayu, Jatibarang, Losari, dan Brebes. Di Cirebon, tari topeng ini sendiri banyak sekali jenisnya, dalam hal gerakan maupun cerita yang ingin disampaikan. Terkadang tari topeng dimainkan oleh saru penari tarian tunggal, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa orang.
Salah satu jenis tari topeng yang berasal dari Cirebon adalah Tari Topeng Klana. Tarian ini merupakan semacam bagian lain dari tari topeng cirebon lainnya yaitu Tari Topeng Kencana Wungu. Adakalanya kedua tari Topeng ini disajikan bersama, biasa disebut dengan Tari Topeng Klana Kencana Wungu.
Tari Topeng Klana merupakan rangkaian gerakan tari yang menceritakan Prabu Minakjingga (Klana) yang tergila-gila pada kecantikan Ratu Kencana Wungu, hingga kemudian berusaha mendapatkan pujaan hatinya. Namun upaya pengejarannya tidak mendapat hasil. Kemarahan yang tak bisa lagi disembunyikannya kemudian membeberkan segala tabiat buruknya. 
Pada dasarnya, bentuk dan warna topeng mewakili karakter atau watak tokoh yang dimainkan. Klana, dengan topeng dan kostum yang didominasi warna merah mewakili karakter yang tempramental.   Dalam tarian ini, Klana yang merupakan orang yang serakah, penuh amarah, dan tidak bisa menjaga hawa nafsu divisualisasikan dalam gerakan langkah kaki yang panjang-panjang dan menghentak. Sepasang tangannya juga terbuka, serta jari-jari yang selalu mengepal. Sebagian gerak tarinya menggambarkan seseorang yang gagah, mabuk, marah, atau tertawa terbahak-bahak. Tarian ini biasa dipadukan dengan irama Gonjing yang dilanjutkan dengan Sarung Ilang. Pola pengadegan tarinya sama dengan topeng lainnya, terdiri atas bagian baksarai (tari yang belum memakai kedok) dan bagianngedok (tari yang memakai topeng). Tepat sebelum bagian akhir tarian ini, penari biasanya berkeliling kepada tamu yang datang untuk meminta uang. Ia berkeliling dengan mengasonkan topeng yang dipakainya sebagai wadah uang pemberian penonton. Bagian ini disebut dengan Ngarayuda atau Nyarayuda, simbol dari raja kaya raya yang masih tidak merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, hingga terus merampas sebanyak-banyaknya harta rakyat kecil tanpa mempeduikan hak-haknya. 
Sosok Rahwana dalam Tari Topeng Kelana
Tidak ada yang tahu pasti siapa yang pertama kali menciptakan tari topeng kelana. Yang pasti, tari ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Singasari. Hal tersebut salah satunya dibuktikan oleh adanya catatan dalam Kitab Negara Kertagama yang menggambarkan Raja Hayam Wuruk sedang menari dengan menggunakan topeng yang terbuat dari emas.
Berdasarkan sumber tersebut, dahulu tari topeng kelana diyakini sebagai tari yang hanya dipentaskan di dalam lingkungan kerajaan. Tari ini dibawakan oleh raja dan hanya dipertontonkan kepada perempuan dalam lingkungan kerajaan, seperti para istri raja, mertua, hingga ipar perempuan raja. Karenanya, dahulu tari topeng kelana dinilai lebih bersifat spiritual daripada sebagai hiburan. Secara umum, tari topeng kelana terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian baksarai dan ngedok. Baksarai merupakan pementasan tari ketika belum mengenakan topeng, sedangkan ngedok merupakan bagian saat para penari sudah mengenakan topeng. Tari topeng kelana biasanya dipentaskan oleh laki-laki, tapi pakem tersebut telah berubah.
Sejalan dengan perkembangannya, kini perempuan juga banyak yang mementaskan tarian topeng kelana. Tari topeng kelana biasa dipentaskan oleh 4-6 orang penari. Gerakan dalam tari ini cenderung energik dan bersemangat, tapi tetap memerlukan keluwesan untuk bisa mementaskannya. Dilihat dari gerakan dan topeng yang dikenakan, tari ini merupakan penggambaran seseorang yang berperilaku buruk, serakah, arogan layaknya tokoh Rahwana dalam pewayangan.
Banyak yang percaya bahwa tari topeng kelana merupakan tari yang sudah ada di kalangan istana raja-raja di Pulau Jawa sebelum kemudian berkembang di daerah Cirebon.Di kalangan masyarakat Cirebon, tari topeng kelana merupakan tari yang boleh dipentaskan oleh siapa saja. Fungsi tari ini menjadi sarana hiburan. Dengan iringan musik gojing yang meriah dan bersemangat, tari topeng kelana menjadi pementasan yang ciamik untuk ditonton.


Tari Topeng Rumyang


Tari Topeng Rumyang


          Maknanya bahwa kita senantiasa mengharumkan nama Tuhan yaitu dengan Do’a dan dzikir Topeng Rumyang adalah sebuah tarian yang menggambarkan watak atau kepribadian seseorang manusia pada masa akhir balik, peralihan atau remaja yang menginjak dewasa (miyang/transisi).
          Sedangkan dalam perspektif spiritualis arti dari nama Topeng Rumyang yaitu "RUM" yang berarti mengharumkan, dan "YANG" itu yang berarti Maha Esa. Manusia yang sedang mendalami esensi dari ajaran syariat yaitu sedang mencoba memahaminya lewat jalan yang lebih baik khusus yang dikenal dengan ajaran thoriqoh atau tarekat. Tahapan ini mulai memasuki maqom martabat insan.
          Filosofinya adalah gambaran seorang manusia yang selalu mengagungkan asma Allah SWT dengan senantiasa beribadah dan berdzikir.
Dari makna warna Topeng Rumyang = Hijau Melambangkan keluhuran budi pekerti
Kedok topeng Rumyang sewanda dengan Pamindo, namun tanpa hiasan rambut. Seperti juga kedok Pamindo, di tengah-tengah dahinya terdapat hiasan rerengu atau rengu batuk mimi, yang disambung dengan hiasan pilis yang melingkar di kedua sisi pipi sampai ke bagian pipi bawah.
           Warna kedoknya merah jambu, namun ada juga yang berwarna coklat muda. Karakter kedoknya sama dengan kedok Pamindo, yakni genit, lincah, atau ganjen. Jika disejajarkan dengan karakter tokoh wayang (golek atau kulit), kedok ini sama dengan Dipatikarna.
Raut wajahnya membersitkan keceriaan, dan hal ini dapat dilihat dari bentuk mulutnya yang senantiasa menyiratkan seseorang dengan senyuman manisnya. Dalam struktur pertunjukan topeng Cirebon, kedok ini ditarikan pada bagian ketiga sebagai kelanjutan dari topeng Pamindo, namun ada pula yang ditarikan paling akhir.
Di kalangan dalang topeng Cirebon, kata Rumyang dianggap berasal dari kata ramyang-ramyang, yang artinya mulai terang, yakni suatu perubahan alam dari malam hari ke siang hari, atau sebaliknya. Ramyang-ramyang identik dengan suasana carangcang tihang (Sunda) yakni saat fajar mulai menyingsing. Rumyang (Menggambarkan kehidupan seorang remaja pada masa akil baligh). Kedok topeng Rumyang sewanda dengan Pamindo, namun tanpa hiasan rambut. Seperti juga kedok Pamindo, di tengah-tengah dahinya terdapat hiasan rerengu atau rengu batuk mimi, yang disambung dengan hiasan pilis yang melingkar di kedua sisi pipi sampai ke bagian pipi bawah. Warna kedoknya merah jambu, namun ada juga yang berwarna coklat muda. Karakter kedoknya sama dengan kedok Pamindo, yakni genit, lincah, atau ganjen. Jika disejajarkan dengan karakter tokoh wayang (golek atau kulit), kedok ini sama dengan Dipatikarna. Raut wajahnya membersitkan keceriaan, dan hal ini dapat dilihat dari bentuk mulutnya yang senantiasa menyiratkan seseorang dengan senyuman manisnya. Dalam struktur pertunjukan topeng Cirebon, kedok ini ditarikan pada bagian ketiga sebagai kelanjutan dari topeng Pamindo, namun ada pula yang ditarikan paling akhir. Tari topeng Rumyang berasal dari kata ramyang-ramyang yang artinya mulai terang. Tari ini menggambarkan seseorang yang mulai dewasa dan tahu arti kehidupan. Gerakan tarinya lincah dan riang. Kedoknya berwarna merah muda atau jingga sebagai lambing peralihan dari masa remaja menuju masa dewasa. Iringan lagu rumyang atau kembang kapas atau buncis. Penarinya memakai pakaian berwarna merah muda atau jingga dan memakai kain lancar gelar. Tarian ini mempunyai makna menyucikan diri demi keselamatan kita


Jumat, 20 Desember 2019

Tari Topeng Tumenggung


Tari Topeng Tumenggung


Tari Topeng Temenggung Simbol Ksatria yang Berwibawa. Istilah Tumenggung sebagai GelarKebangsawanan BupatiDi Jawa bagian Barat, selain pangeran,adipati, atau aria, istilah tumenggungmenunjuk juga kepada gelar yang dipakaioleh umumnya yang berkedudukan bupati(Lubis, 2000: 315-320). Bersangkut-pautdengan hal ini pada masa lampau dikenalnama-nama seperti: R. Tmg. Wiranata-kusumah, R. Tmg. Wiraminangun, R. Tmg.Ardi-kusumah, R. Tmg. Anggadire ja(Bandung), R. Tmg. Suriadilaga dan Tmg.Aria Suria Kusumah Adinata (Sumedang),R. Tmg. Wiradadaha dan R. Tmg. Sacapati(Sukapura/Tasik-malaya), R. Tmg. Wira-ne gara (Cianjur), R. Tmg. Jaye ngpatiKertanegara, R Tmg. Natanagara, R. Tmg.Wiradikusumah, R. Tmg. Aria Sunarya(Galuh/Ciamis), R. Tmg. Wangsareja, R.Tmg. Wangsadireja (Limbangan/Garut) Dalam suatu rangkaian penyajianTopeng Cirebon, Tari Tumenggung biasanyaditempatkan pada urutan ke empat yaitusetelah Panji, Pamindo, dan Rumiang.Mengikuti pola penyajian tersebut, TariTumenggung dibagi ke dalam tigaadegan,yaitu: 1) tahapdodoan); 2) tahapunggahtengah; dan 3) tahapdeder.Khusus padatahapunggah tengahtokoh Tumenggungtampil duet bersama tokoh Jinggananom,dan kedua-nya terlibat dalam suatu dialogyang dilanjutkan dengan adu kekuatan.
Cirebon merupakan salah satu daerah yang kuat akan budaya keseniannya termasuk Seni Tari, setiap daerah mempunyai ciri khas Tari yang berbeda dengan daerah lainnya. Salah satunya adalah tari topeng Tumenggung.Tari Topeng Tumenggung, melambangkan kehidupan manusia yang sudah menemukan jati dirinya dan sudah dapat membedakan sifat yang baik dan buruk, dan mempunyai prinsip. Tari Topeng Tumenggung menggambarkan Manusia yang berkuasa atas dirinya sendiri, tidak ada larangan dari siapapun terkecuali dari dalam dirinya yang berasal dari kesadaran sepiritual berupa etika dan agama. filsafat kehidupan yang menggambarkan sisi lain dari diri setiap manusia.Pakaian serba hitam, mengikuti iringan lagu gamelan menjadi sebuah persembahan penari di daerah Cirebon, Jawa Barat. Mengenakan celana sebatas lutut dan penutup kepala atau yang disebut sobra sebagai hiasan yang melekat di kepala. Topeng merah dengan kumis tebal memperlihatkan karakter yang gagah juga berwibawa. Itulah kira-kira gambaran tari Topeng Temenggung, sebuah tari yang menceritakan ksatria berjiwa arif juga budiman.Tari Topeng Temenggung merupakan salah satu dari lima tari topeng Cirebon, selain Tari Topeng Panji, Tari Topeng Samba, Tari Topeng Rumyang, dan Tari Topeng Kelana. Kelima tari topeng Cirebon tersebut memiliki karakter dan unsur yang berbeda-beda saat dipentaskan.Khusus Tari Temenggung, tari ini menceritakan sebuah ksatria yang gagah berani berperang melawan angkara murka. Sosok ksatria tersebut disimbolkan oleh Temenggung, yaitu seorang Adipati dari Magadiraja yang berjiwa pemberani, dihadapkan oleh sang perusuh yang bernama Jinggaanom.Dalam gerakan Tari Temenggung, tubuh sang penari terlihat tegap juga elegan. Ini melambangkan sang penari tengah menjadi ksatria yang gagah dan tangkas. Gerakan punggung dan tangan sangat tegas, memperlihatkan tarian ini adalah tarian yang melambangkan seorang ksatria. Walaupun melambangkan ksatria yang gagah, namun tidak jarang tari ini di bawakan oleh kaum wanita.Tari Topeng Tumenggung diiringi oleh musik gamelan yang dipadukan dengan gendang. Sementara lagu yang biasa digunakan untuk mengiringi pementasan adalah lagu temenggungan, barendodoan, dan barenkering. Tari tradisional Cirebon ini biasa dipentaskan baik secara perorangan maupun kelompok.Pakaian serba hitam, mengikuti iringan lagu gamelan menjadi sebuah persembahan penari di daerah Cirebon, Jawa Barat. Mengenakan celana sebatas lutut dan penutup kepala atau yang disebut sobra sebagai hiasan yang melekat di kepala. Topeng merah dengan kumis tebal memperlihatkan karakter yang gagah juga berwibawa. Itulah kira-kira gambaran tari Topeng Temenggung, sebuah tari yang menceritakan ksatria berjiwa arif juga budiman.Tari Topeng Temenggung merupakan salah satu dari lima tari topeng Cirebon, selain Tari Topeng Panji, Tari Topeng Samba, Tari Topeng Rumyang, dan Tari Topeng Kelana. Kelima tari topeng Cirebon tersebut memiliki karakter dan unsur yang berbeda-beda saat dipentaskan.Khusus Tari Temenggung, tari ini menceritakan sebuah ksatria yang gagah berani berperang melawan angkara murka. Sosok ksatria tersebut disimbolkan oleh Temenggung, yaitu seorang Adipati dari Magadiraja yang berjiwa pemberani, dihadapkan oleh sang perusuh yang bernama Jinggaanom.Dalam gerakan Tari Temenggung, tubuh sang penari terlihat tegap juga elegan. Ini melambangkan sang penari tengah menjadi ksatria yang gagah dan tangkas. Gerakan punggung dan tangan sangat tegas, memperlihatkan tarian ini adalah tarian yang melambangkan seorang ksatria. Walaupun melambangkan ksatria yang gagah, namun tidak jarang tari ini di bawakan oleh kaum wanita.Tari Topeng Tumenggung diiringi oleh musik gamelan yang dipadukan dengan gendang. Sementara lagu yang biasa digunakan untuk mengiringi pementasan adalah lagu temenggungan, barendodoan, dan barenkering. Tari tradisional Cirebon ini biasa dipentaskan baik secara perorangan maupun kelompok.Bagi masyarakat Cirebon, topeng dianggap sakral. Selain sebagai simbol dari tanggung jawab, topeng juga dianggap sebagai jati diri seseorang.
Tari (Topeng) Tumenggung sebagaikarya seni masa lampau telah turut mene-gaskan salah satu fungsi seni, yaitu fungsikomunikasikhususnya pada tataranpro-methean,yaitu seni yang dapat mening-katkan moralitas, filsafat, dan pengetahuanmanusia (Morawski dalam: Liang Gie, 1996:50-51).Topeng Cirebon yang sekarang dicapsebagai kesenian tradisional dan kentalpakem pada kenyataannya merupakanhasil perubahan secara terus-menerus olehtangan-tangan terampil (para creator)masalampau. Berdasar pada anggapan tersebutkiranya dapat ditegas-kan kembali bahwayang dikatakan kebudayaan (kesenian)tradisional itu adalah dinamis, jelasnyasenantiasa berubah, sehingga sulit untukdite lusuri mana s e sungguhnya yangdise but ‘asli’ itu. Ge jala-ge jala yangsekarang dikatakan tradisional boleh jadimerupakan hasil transformasi pada masalampau, dan gejala-gejala yang pada masalampau dikatakan tradisional, juga bolehjadi merupakan hasil transformasi padamasa sebelumnya. Seniman pinggiran yangdipandang rendahan ternyata memilikiketajaman di dalam membaca situasi sosial,serta memiliki ke mampuan di dalammengekspresikan lewat simbol-simbol seni.Untuk keperluan penyampaian pesan(unek-unek) dan kebutuhan hajat hidup,seniman lampau ‘terpaksa’ untuk mela-kukan perubahan terhadap sesuatu yangditerima dari leluhurnya.Sebagai kata akhir, dari perspektif ke-ilmuan seni,Tari Tumenggungyang munculsejak masa kolonial tergolong ke dalamparodi dan masuk dalam bingkai post-modern. Bersandar pada anggapan tersebutbilamana pengertian posmodern berfokuspada kode ganda, maka pos-modernismesesungguhnya sudah lama muncul padadunia seni pertunjukan masa lampau.
Dal am ce ri ta Damarwulan sangatmungki n Tari Pamind o menggambarkantokoh-tokoh Kencanawungu, Damarwulan,atau Anjasmara; Tari Rumiang menggam-barkan Layang Seta atau Layang Kumitir, danTari Tumenggung menggambarkan PatihLogender.2Di Slangit, Tari Topeng Tumenggung biasad ise but ‘tari pe cian’. Pe rtunj ukan pad aperayaanhajatan biasanya diselingi olehbri-manan ataunyarayuda.3Raja kecil memiliki arti konotatif yaitupenguasa.4Periksa Lubis(1998:190).5Sampai sekarang habitat topeng adalahwilayah pinggiran seperti: Slangit, Gegsik,Losari, dll.6Mengenai istilah gambuh ini rupa-rupa-nya terjadi pergeseran arti. Menurut Poerba-tjaraka (1968: 43) Gambuh (Gambuh WargaAsmara) adalah Candra Kirana yang menya-mar sebagai laki-laki untuk mengadakan per-tunjukan di kota Gegelang dalam Cerita Panji.7Periksa Nugraha(1982-1983:45)8Negeri (Tumenggungan) Jongjola itu(semula) adalah bawahan Bawarna, tetapikemudian Jinggananom ingin merdeka, memi-liki kedaulatan sendiri, dan karena itu ia taklagi melakukanseba atau mengirim upeti keBawarna (periksa Suanda dalam Nalan, ed.1996:30).9Diketahui lebih lanjut tokoh Jinggananomtidak ditarikan oleh ’penari’ melainkan olehpenabuh gamelan yang secara praktis tidakterampil dalam menari.10Periksa Nurwara, 2012: Penyajian TariTopeng Tumenggung Perang JinggananomCirebon Gaya Slangit . STSI Bandung th, 2012hlm. 125-127.


Fungsi Tari Topeng Panji


Fungsi Tari Topeng Panji


Adapun tari topeng panji ini digunakan untuk menghadirkan kekuatan semesta –  semesta yang paradoksal. Dengan tarian ini sobat, maka asas –  asas paradoksal tersebut kelaki –  lakian dan keperempuanan akan dihadirkan. Selain itu sobat, dewa pencipta itu sendiri akan hadir lewat mitos dan juga lambing panji ini.
Panji tersebut adalah paradoks itu sendiri. Ia sendiri bersifat laki laki dan juga bersifat perempuan bak seperti matahari dan juga bulan. Ia juga digambarkan seperti siang dan malam, langit dan tanah, ia juga kasar dan halus, ia juga nampak dan tidak nampak, ia hidup dan mati, ia masa lampau dan masa datang, waktu dan ruang sendiri adalah paradoks dalam diri dewa ini.
Oleh karena itulah sobat, cerita topeng Panji ini masih dinaggap mistis hingga sekarang ini. Gerakan tari topeng panji ini cenderung pelan dan lembut dan lebih banyak diam. Hal ini bertujuan untuk roh yang diundang agar masuk ke penarinya.
Itulah ulasan mengenai tari topeng panji yang bisa penulis share pada postingan kali ini ya sobat. Semoga membawa banyak manfaat bagi sobat semua. Sampai jumpa di lain kesempatan dan salam hangat selalu dari penulis.


Sejarah Tari Topeng Panji




Kedoknya berwarna putih. Matanya liyep, pandangannya merunduk dan senyumnya dikulum. Raut wajahnya (wanda) menunjukan seorang yang alim, tuturkatanya lemah-lembut dan gerakannya halus. Dalam topeng Cirebon kedok ini ditarikan dalam karakter alusan (halus) seperti halnya tokoh Arjuna dalam cerita wayang. Tariannya menggambarkan seseorang yang berbudi luhur, penuh kesabaran dan tahan atas segala godaan. Ini tercermin dari iringannya (musik) yang bertolak belakang (kontras) dengan tariannya. Tari topeng Panji adalah tarian paradoks.
Menurut Endo Suanda, inilah tarian paling halus dengan langkah-langkah minimalis lebih banyak yang menampilkan gerak “diam yang dinamis”. Teknik gerakan jauh dari spektakuler, nyaris monoton dan “kurang menarik” bagi penonton awam. Meskipun demikian, tarian ini justru yang paling sukar ditarikan, karena diperlukan disiplin keras, penahanan diri, memakan tenaga, sangat serius, dan amat tertib sejak awal. Meskipun tarian ini merupakan tarian pertama, justru tarian ini dipelajari oleh para penarinya dalam tahap-tahap akhir, karena persyaratan tariannya yang demikian ketat. Bagian-bagian gerak tari Panji ini akan diulang dalam keempat tarian yang kemudian menyusul. Lagu yang mengiringinya disebut Kembang Sungsang, merupakan lagu terpanjang dan tersulit dimainkan. Iringan lagu ini sering tampil kontras dengan gerak tariannya. Irama cepat dan bunyi keras, disambut gerak tari yang amat minim, bahkan hampir tanpa gerak.


Awal Mula Tari Topeng Cirebon


        


Indonesia sudah terkenal dengan kebudayaan yang beraneka ragam yang ada di seluruh propinsi yang ada. Salah satu kebudayaan itu adalah seni tari. Seni tari setiap daerah mempunyai ciri khas yang berbeda dengan daerah lainnya. Salah satunya adalah tari topeng Cirebonan.
           Tari topeng Cirebonan ini ternyata salah satu seni yang berisi hiburan juga mengandung simbol-simbol yang melambangkan berbagai aspek kehidupan seperti nilai kepemimpinan, kebijaksanaan, cinta bahkan angkara murka serta menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak dilahirkan hingga menginjak dewasa. Dalam hubungan ini maka seni tari topeng ini dapat digunakan sebagai media komunikasi yang sangat positif sekali.
Pada masa itu dimana Cirebon sebagai pusat penyebaran agama Islam, Sunan Gunung Jati bekerja sama dengan Sunan Kalijaga menggunakan tari topeng ini sebagai salah satu upaya untuk menyebarkan agama Islam dan sebagai hiburan di lingkungan keraton.
Sebenannya tari topeng ini sudah ada jauh sejak abad 10-11 M yaitu pada masa pemerintahan Raja Jenggala di Jawa Timur yaitu Prabu Panji Dewa. Melalui seniman jalanan seni tari topeng ini masuk ke Cirebon dan mengalami akulturasi dengan kebudayaan setempat. Ternyata dalam perkembangannya disebut dengan Topeng Babakan atau dinaan yaitu berupa penampilan 5 atau 9 topeng dari tokoh-tokoh cerita panji.
            Topeng ini berasal dari kata Taweng yang berarti tertutup atau menutupi, sedangkan pendapat lainnya mengatakan bahwa topeng berarti penutup muka atau kedok.Dengan demikian tari topeng ini dapat diartikan sebagai seni tari yang menggunakan penutup muka berupa topeng atau kedok oleh para penari pada waktu pementasannya.
Unsur-unsur yang terdapat pada seni tari topeng mengandung simbol-simbol dan penuh dengan pesan terselubung, baik dari warna kedok, jumlah kedok, jumlah gamelan pengiring dan lainnya.Jumlah topeng keseluruhannya ada 9 buah yaitu panji, samba atau pamindo, rumyang, tumenggung atau patih, kelana atau rahwana, pentul, nyo atau sembelep, jingananom dan aki-aki.Topeng yang dijadikan topeng pokok ada lima buah yaitu panji, samba, rumyang, tumenggung dan kelana, sedangkan keempat kedok lainnya digunakan apabila dibuat cerita atau lakon seperti Jaka Blowo, Panji Blowo, Panji Gandrung dan lainnya.Kelima kedok itu disebut dengan Topeng Panca Wanda yang artinya topeng lima profil.
        Nah, setelah kita tahu sejarah dari tari topeng ini jangan sampai kita sebagai orang Indonesia atau penduduk kota Cirebon sama sekali tidak mengetahui seni tari khas daerahnya sendiri.Mudah-mudahan generasi muda bisa melesterikan kekayaan budaya sendiri jangan sampai budaya kita dicaplok oleh negara lain.Kebetulan saya sangat menyukai tari karena dari kecil saya sudah menari dan sekarang diturunkan kesenangan ini oleh anak saya. Tia, anak saya sudah menguasai banyak tari sunda dan sekarang dia lagi mempelajari tari topeng cirebonan, dan sudah menguasai 3 jenis tari topeng yaitu topeng panj,samba dan kelana.Mudah-mudahan generasi muda kita jangan terpesona dengan budaya luar yang kita anggap wah, padahal budaya kita juga tidak kalah bagusnya. Gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, serta iringan musik yang didominasi oleh kendang dan rebab, merupakan ciri khas lain dari tari topeng. Kesenian Tari Topeng ini masih eksis dipelajari di sanggar-sanggar tari yang ada, dan masih sering dipentaskan pada acara-acara resmi daerah, ataupun pada momen tradisional daerah lainnya. Salah satu maestro tari topeng adalah Mimi Rasinah, yang aktif menari dan mengajarkan kesenian Tari Topeng di sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah yang terletak di desa Pekandangan, Indramayu, Indramayu.[24] Sejak tahun 2006 Mimi Rasinah menderita lumpuh, tetapi ia masih tetap bersemangat untuk berpentas, menari dan mengajarkan tari topeng hingga akhir hayatnya, Mimi Rasinahwafat pada bulan Agustus 2010 pada usia 80 tahun.