ANGGOTA KELOMPOK

Ega Tegar S,Heni Erdiani,Putri Lestari,Bapak Elang Komarahadi,Nisa ,Rhatna .

SANGGAR SENI TARI PANDAN

Jl. Jagasatru ,Pulasaren, Kec.Pekalipan, Kota Cirebon, Jawa Barat 45116.

Logo Sanggar Seni Sekar Pandan

Jl. Jagasatru ,Pulasaren, Kec.Pekalipan, Kota Cirebon, Jawa Barat 45116.

Ketua Sanggar Seni Sekar Pandan

Bapak Elang Komarahadi.

Macam-Macam Topeng

Beberapa Foto Topeng.

Tampilkan postingan dengan label jenis seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jenis seni. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Desember 2019

Tari Topeng Klana


                                                                                                                                  Tari Topeng Klana


Kelana artinya Kembara atau Mencari. Bahwa dalam hidup ini kita wajib berikhtiar.
Tidak ada yang tahu pasti siapa yang pertama kali menciptakan tari topeng kelana. Yang pasti, tari ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Singasari. Hal tersebut salah satunya dibuktikan oleh adanya catatan dalam Kitab Negara Kertagama yang menggambarkan Raja Hayam Wuruk sedang menari dengan menggunakan topeng yang terbuat dari emas.
Dahulu tari topeng kelana diyakini sebagai tari yang hanya dipentaskan di dalam lingkungan kerajaan. Tari ini dibawakan oleh raja dan hanya dipertontonkan kepada perempuan dalam lingkungan kerajaan, seperti para istri raja, mertua, hingga ipar perempuan raja. Karenanya, dahulu tari topeng kelana dinilai lebih bersifat spiritual daripada sebagai hiburan. Secara umum, tari topeng kelana terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian baksarai dan ngedok. Baksarai merupakan pementasan tari ketika belum mengenakan topeng, sedangkan ngedok merupakan bagian saat para penari sudah mengenakan topeng. Tari topeng kelana biasanya dipentaskan oleh laki-laki, tapi pakem tersebut telah berubah. Sejalan dengan perkembangannya, kini perempuan juga banyak yang mementaskan tarian topeng kelana. Tari topeng kelana biasa dipentaskan oleh 4-6 orang penari. Gerakan dalam tari ini cenderung energik dan bersemangat, tapi tetap memerlukan keluwesan untuk bisa mementaskannya. Dilihat dari gerakan dan topeng yang dikenakan, tari ini merupakan penggambaran seseorang yang berperilaku buruk, serakah, arogan layaknya tokoh Rahwana dalam pewayangan.
Banyak yang percaya bahwa tari topeng kelana merupakan tari yang sudah ada di kalangan istana raja-raja di Pulau Jawa sebelum kemudian berkembang di daerah Cirebon.
Di kalangan masyarakat Cirebon, tari topeng kelana merupakan tari yang boleh dipentaskan oleh siapa saja. Fungsi tari ini menjadi sarana hiburan. Dengan iringan musik gojing yang meriah dan bersemangat, tari topeng kelana menjadi pementasan yang ciamik untuk ditonton.
Tari Topeng Cirebon adalah salah satu tarian di tatar Parahyangan. Kesenian ini merupakan kesenian asli daerah Cirebon, termasuk Indramayu, Jatibarang, Losari, dan Brebes. Di Cirebon, tari topeng ini sendiri banyak sekali jenisnya, dalam hal gerakan maupun cerita yang ingin disampaikan. Terkadang tari topeng dimainkan oleh saru penari tarian tunggal, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa orang.
Salah satu jenis tari topeng yang berasal dari Cirebon adalah Tari Topeng Klana. Tarian ini merupakan semacam bagian lain dari tari topeng cirebon lainnya yaitu Tari Topeng Kencana Wungu. Adakalanya kedua tari Topeng ini disajikan bersama, biasa disebut dengan Tari Topeng Klana Kencana Wungu.
Tari Topeng Klana merupakan rangkaian gerakan tari yang menceritakan Prabu Minakjingga (Klana) yang tergila-gila pada kecantikan Ratu Kencana Wungu, hingga kemudian berusaha mendapatkan pujaan hatinya. Namun upaya pengejarannya tidak mendapat hasil. Kemarahan yang tak bisa lagi disembunyikannya kemudian membeberkan segala tabiat buruknya. 
Pada dasarnya, bentuk dan warna topeng mewakili karakter atau watak tokoh yang dimainkan. Klana, dengan topeng dan kostum yang didominasi warna merah mewakili karakter yang tempramental.   Dalam tarian ini, Klana yang merupakan orang yang serakah, penuh amarah, dan tidak bisa menjaga hawa nafsu divisualisasikan dalam gerakan langkah kaki yang panjang-panjang dan menghentak. Sepasang tangannya juga terbuka, serta jari-jari yang selalu mengepal. Sebagian gerak tarinya menggambarkan seseorang yang gagah, mabuk, marah, atau tertawa terbahak-bahak. Tarian ini biasa dipadukan dengan irama Gonjing yang dilanjutkan dengan Sarung Ilang. Pola pengadegan tarinya sama dengan topeng lainnya, terdiri atas bagian baksarai (tari yang belum memakai kedok) dan bagianngedok (tari yang memakai topeng). Tepat sebelum bagian akhir tarian ini, penari biasanya berkeliling kepada tamu yang datang untuk meminta uang. Ia berkeliling dengan mengasonkan topeng yang dipakainya sebagai wadah uang pemberian penonton. Bagian ini disebut dengan Ngarayuda atau Nyarayuda, simbol dari raja kaya raya yang masih tidak merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, hingga terus merampas sebanyak-banyaknya harta rakyat kecil tanpa mempeduikan hak-haknya. 
Sosok Rahwana dalam Tari Topeng Kelana
Tidak ada yang tahu pasti siapa yang pertama kali menciptakan tari topeng kelana. Yang pasti, tari ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Singasari. Hal tersebut salah satunya dibuktikan oleh adanya catatan dalam Kitab Negara Kertagama yang menggambarkan Raja Hayam Wuruk sedang menari dengan menggunakan topeng yang terbuat dari emas.
Berdasarkan sumber tersebut, dahulu tari topeng kelana diyakini sebagai tari yang hanya dipentaskan di dalam lingkungan kerajaan. Tari ini dibawakan oleh raja dan hanya dipertontonkan kepada perempuan dalam lingkungan kerajaan, seperti para istri raja, mertua, hingga ipar perempuan raja. Karenanya, dahulu tari topeng kelana dinilai lebih bersifat spiritual daripada sebagai hiburan. Secara umum, tari topeng kelana terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian baksarai dan ngedok. Baksarai merupakan pementasan tari ketika belum mengenakan topeng, sedangkan ngedok merupakan bagian saat para penari sudah mengenakan topeng. Tari topeng kelana biasanya dipentaskan oleh laki-laki, tapi pakem tersebut telah berubah.
Sejalan dengan perkembangannya, kini perempuan juga banyak yang mementaskan tarian topeng kelana. Tari topeng kelana biasa dipentaskan oleh 4-6 orang penari. Gerakan dalam tari ini cenderung energik dan bersemangat, tapi tetap memerlukan keluwesan untuk bisa mementaskannya. Dilihat dari gerakan dan topeng yang dikenakan, tari ini merupakan penggambaran seseorang yang berperilaku buruk, serakah, arogan layaknya tokoh Rahwana dalam pewayangan.
Banyak yang percaya bahwa tari topeng kelana merupakan tari yang sudah ada di kalangan istana raja-raja di Pulau Jawa sebelum kemudian berkembang di daerah Cirebon.Di kalangan masyarakat Cirebon, tari topeng kelana merupakan tari yang boleh dipentaskan oleh siapa saja. Fungsi tari ini menjadi sarana hiburan. Dengan iringan musik gojing yang meriah dan bersemangat, tari topeng kelana menjadi pementasan yang ciamik untuk ditonton.


Tari Topeng Rumyang


Tari Topeng Rumyang


          Maknanya bahwa kita senantiasa mengharumkan nama Tuhan yaitu dengan Do’a dan dzikir Topeng Rumyang adalah sebuah tarian yang menggambarkan watak atau kepribadian seseorang manusia pada masa akhir balik, peralihan atau remaja yang menginjak dewasa (miyang/transisi).
          Sedangkan dalam perspektif spiritualis arti dari nama Topeng Rumyang yaitu "RUM" yang berarti mengharumkan, dan "YANG" itu yang berarti Maha Esa. Manusia yang sedang mendalami esensi dari ajaran syariat yaitu sedang mencoba memahaminya lewat jalan yang lebih baik khusus yang dikenal dengan ajaran thoriqoh atau tarekat. Tahapan ini mulai memasuki maqom martabat insan.
          Filosofinya adalah gambaran seorang manusia yang selalu mengagungkan asma Allah SWT dengan senantiasa beribadah dan berdzikir.
Dari makna warna Topeng Rumyang = Hijau Melambangkan keluhuran budi pekerti
Kedok topeng Rumyang sewanda dengan Pamindo, namun tanpa hiasan rambut. Seperti juga kedok Pamindo, di tengah-tengah dahinya terdapat hiasan rerengu atau rengu batuk mimi, yang disambung dengan hiasan pilis yang melingkar di kedua sisi pipi sampai ke bagian pipi bawah.
           Warna kedoknya merah jambu, namun ada juga yang berwarna coklat muda. Karakter kedoknya sama dengan kedok Pamindo, yakni genit, lincah, atau ganjen. Jika disejajarkan dengan karakter tokoh wayang (golek atau kulit), kedok ini sama dengan Dipatikarna.
Raut wajahnya membersitkan keceriaan, dan hal ini dapat dilihat dari bentuk mulutnya yang senantiasa menyiratkan seseorang dengan senyuman manisnya. Dalam struktur pertunjukan topeng Cirebon, kedok ini ditarikan pada bagian ketiga sebagai kelanjutan dari topeng Pamindo, namun ada pula yang ditarikan paling akhir.
Di kalangan dalang topeng Cirebon, kata Rumyang dianggap berasal dari kata ramyang-ramyang, yang artinya mulai terang, yakni suatu perubahan alam dari malam hari ke siang hari, atau sebaliknya. Ramyang-ramyang identik dengan suasana carangcang tihang (Sunda) yakni saat fajar mulai menyingsing. Rumyang (Menggambarkan kehidupan seorang remaja pada masa akil baligh). Kedok topeng Rumyang sewanda dengan Pamindo, namun tanpa hiasan rambut. Seperti juga kedok Pamindo, di tengah-tengah dahinya terdapat hiasan rerengu atau rengu batuk mimi, yang disambung dengan hiasan pilis yang melingkar di kedua sisi pipi sampai ke bagian pipi bawah. Warna kedoknya merah jambu, namun ada juga yang berwarna coklat muda. Karakter kedoknya sama dengan kedok Pamindo, yakni genit, lincah, atau ganjen. Jika disejajarkan dengan karakter tokoh wayang (golek atau kulit), kedok ini sama dengan Dipatikarna. Raut wajahnya membersitkan keceriaan, dan hal ini dapat dilihat dari bentuk mulutnya yang senantiasa menyiratkan seseorang dengan senyuman manisnya. Dalam struktur pertunjukan topeng Cirebon, kedok ini ditarikan pada bagian ketiga sebagai kelanjutan dari topeng Pamindo, namun ada pula yang ditarikan paling akhir. Tari topeng Rumyang berasal dari kata ramyang-ramyang yang artinya mulai terang. Tari ini menggambarkan seseorang yang mulai dewasa dan tahu arti kehidupan. Gerakan tarinya lincah dan riang. Kedoknya berwarna merah muda atau jingga sebagai lambing peralihan dari masa remaja menuju masa dewasa. Iringan lagu rumyang atau kembang kapas atau buncis. Penarinya memakai pakaian berwarna merah muda atau jingga dan memakai kain lancar gelar. Tarian ini mempunyai makna menyucikan diri demi keselamatan kita


Jumat, 20 Desember 2019

Tari Topeng Tumenggung


Tari Topeng Tumenggung


Tari Topeng Temenggung Simbol Ksatria yang Berwibawa. Istilah Tumenggung sebagai GelarKebangsawanan BupatiDi Jawa bagian Barat, selain pangeran,adipati, atau aria, istilah tumenggungmenunjuk juga kepada gelar yang dipakaioleh umumnya yang berkedudukan bupati(Lubis, 2000: 315-320). Bersangkut-pautdengan hal ini pada masa lampau dikenalnama-nama seperti: R. Tmg. Wiranata-kusumah, R. Tmg. Wiraminangun, R. Tmg.Ardi-kusumah, R. Tmg. Anggadire ja(Bandung), R. Tmg. Suriadilaga dan Tmg.Aria Suria Kusumah Adinata (Sumedang),R. Tmg. Wiradadaha dan R. Tmg. Sacapati(Sukapura/Tasik-malaya), R. Tmg. Wira-ne gara (Cianjur), R. Tmg. Jaye ngpatiKertanegara, R Tmg. Natanagara, R. Tmg.Wiradikusumah, R. Tmg. Aria Sunarya(Galuh/Ciamis), R. Tmg. Wangsareja, R.Tmg. Wangsadireja (Limbangan/Garut) Dalam suatu rangkaian penyajianTopeng Cirebon, Tari Tumenggung biasanyaditempatkan pada urutan ke empat yaitusetelah Panji, Pamindo, dan Rumiang.Mengikuti pola penyajian tersebut, TariTumenggung dibagi ke dalam tigaadegan,yaitu: 1) tahapdodoan); 2) tahapunggahtengah; dan 3) tahapdeder.Khusus padatahapunggah tengahtokoh Tumenggungtampil duet bersama tokoh Jinggananom,dan kedua-nya terlibat dalam suatu dialogyang dilanjutkan dengan adu kekuatan.
Cirebon merupakan salah satu daerah yang kuat akan budaya keseniannya termasuk Seni Tari, setiap daerah mempunyai ciri khas Tari yang berbeda dengan daerah lainnya. Salah satunya adalah tari topeng Tumenggung.Tari Topeng Tumenggung, melambangkan kehidupan manusia yang sudah menemukan jati dirinya dan sudah dapat membedakan sifat yang baik dan buruk, dan mempunyai prinsip. Tari Topeng Tumenggung menggambarkan Manusia yang berkuasa atas dirinya sendiri, tidak ada larangan dari siapapun terkecuali dari dalam dirinya yang berasal dari kesadaran sepiritual berupa etika dan agama. filsafat kehidupan yang menggambarkan sisi lain dari diri setiap manusia.Pakaian serba hitam, mengikuti iringan lagu gamelan menjadi sebuah persembahan penari di daerah Cirebon, Jawa Barat. Mengenakan celana sebatas lutut dan penutup kepala atau yang disebut sobra sebagai hiasan yang melekat di kepala. Topeng merah dengan kumis tebal memperlihatkan karakter yang gagah juga berwibawa. Itulah kira-kira gambaran tari Topeng Temenggung, sebuah tari yang menceritakan ksatria berjiwa arif juga budiman.Tari Topeng Temenggung merupakan salah satu dari lima tari topeng Cirebon, selain Tari Topeng Panji, Tari Topeng Samba, Tari Topeng Rumyang, dan Tari Topeng Kelana. Kelima tari topeng Cirebon tersebut memiliki karakter dan unsur yang berbeda-beda saat dipentaskan.Khusus Tari Temenggung, tari ini menceritakan sebuah ksatria yang gagah berani berperang melawan angkara murka. Sosok ksatria tersebut disimbolkan oleh Temenggung, yaitu seorang Adipati dari Magadiraja yang berjiwa pemberani, dihadapkan oleh sang perusuh yang bernama Jinggaanom.Dalam gerakan Tari Temenggung, tubuh sang penari terlihat tegap juga elegan. Ini melambangkan sang penari tengah menjadi ksatria yang gagah dan tangkas. Gerakan punggung dan tangan sangat tegas, memperlihatkan tarian ini adalah tarian yang melambangkan seorang ksatria. Walaupun melambangkan ksatria yang gagah, namun tidak jarang tari ini di bawakan oleh kaum wanita.Tari Topeng Tumenggung diiringi oleh musik gamelan yang dipadukan dengan gendang. Sementara lagu yang biasa digunakan untuk mengiringi pementasan adalah lagu temenggungan, barendodoan, dan barenkering. Tari tradisional Cirebon ini biasa dipentaskan baik secara perorangan maupun kelompok.Pakaian serba hitam, mengikuti iringan lagu gamelan menjadi sebuah persembahan penari di daerah Cirebon, Jawa Barat. Mengenakan celana sebatas lutut dan penutup kepala atau yang disebut sobra sebagai hiasan yang melekat di kepala. Topeng merah dengan kumis tebal memperlihatkan karakter yang gagah juga berwibawa. Itulah kira-kira gambaran tari Topeng Temenggung, sebuah tari yang menceritakan ksatria berjiwa arif juga budiman.Tari Topeng Temenggung merupakan salah satu dari lima tari topeng Cirebon, selain Tari Topeng Panji, Tari Topeng Samba, Tari Topeng Rumyang, dan Tari Topeng Kelana. Kelima tari topeng Cirebon tersebut memiliki karakter dan unsur yang berbeda-beda saat dipentaskan.Khusus Tari Temenggung, tari ini menceritakan sebuah ksatria yang gagah berani berperang melawan angkara murka. Sosok ksatria tersebut disimbolkan oleh Temenggung, yaitu seorang Adipati dari Magadiraja yang berjiwa pemberani, dihadapkan oleh sang perusuh yang bernama Jinggaanom.Dalam gerakan Tari Temenggung, tubuh sang penari terlihat tegap juga elegan. Ini melambangkan sang penari tengah menjadi ksatria yang gagah dan tangkas. Gerakan punggung dan tangan sangat tegas, memperlihatkan tarian ini adalah tarian yang melambangkan seorang ksatria. Walaupun melambangkan ksatria yang gagah, namun tidak jarang tari ini di bawakan oleh kaum wanita.Tari Topeng Tumenggung diiringi oleh musik gamelan yang dipadukan dengan gendang. Sementara lagu yang biasa digunakan untuk mengiringi pementasan adalah lagu temenggungan, barendodoan, dan barenkering. Tari tradisional Cirebon ini biasa dipentaskan baik secara perorangan maupun kelompok.Bagi masyarakat Cirebon, topeng dianggap sakral. Selain sebagai simbol dari tanggung jawab, topeng juga dianggap sebagai jati diri seseorang.
Tari (Topeng) Tumenggung sebagaikarya seni masa lampau telah turut mene-gaskan salah satu fungsi seni, yaitu fungsikomunikasikhususnya pada tataranpro-methean,yaitu seni yang dapat mening-katkan moralitas, filsafat, dan pengetahuanmanusia (Morawski dalam: Liang Gie, 1996:50-51).Topeng Cirebon yang sekarang dicapsebagai kesenian tradisional dan kentalpakem pada kenyataannya merupakanhasil perubahan secara terus-menerus olehtangan-tangan terampil (para creator)masalampau. Berdasar pada anggapan tersebutkiranya dapat ditegas-kan kembali bahwayang dikatakan kebudayaan (kesenian)tradisional itu adalah dinamis, jelasnyasenantiasa berubah, sehingga sulit untukdite lusuri mana s e sungguhnya yangdise but ‘asli’ itu. Ge jala-ge jala yangsekarang dikatakan tradisional boleh jadimerupakan hasil transformasi pada masalampau, dan gejala-gejala yang pada masalampau dikatakan tradisional, juga bolehjadi merupakan hasil transformasi padamasa sebelumnya. Seniman pinggiran yangdipandang rendahan ternyata memilikiketajaman di dalam membaca situasi sosial,serta memiliki ke mampuan di dalammengekspresikan lewat simbol-simbol seni.Untuk keperluan penyampaian pesan(unek-unek) dan kebutuhan hajat hidup,seniman lampau ‘terpaksa’ untuk mela-kukan perubahan terhadap sesuatu yangditerima dari leluhurnya.Sebagai kata akhir, dari perspektif ke-ilmuan seni,Tari Tumenggungyang munculsejak masa kolonial tergolong ke dalamparodi dan masuk dalam bingkai post-modern. Bersandar pada anggapan tersebutbilamana pengertian posmodern berfokuspada kode ganda, maka pos-modernismesesungguhnya sudah lama muncul padadunia seni pertunjukan masa lampau.
Dal am ce ri ta Damarwulan sangatmungki n Tari Pamind o menggambarkantokoh-tokoh Kencanawungu, Damarwulan,atau Anjasmara; Tari Rumiang menggam-barkan Layang Seta atau Layang Kumitir, danTari Tumenggung menggambarkan PatihLogender.2Di Slangit, Tari Topeng Tumenggung biasad ise but ‘tari pe cian’. Pe rtunj ukan pad aperayaanhajatan biasanya diselingi olehbri-manan ataunyarayuda.3Raja kecil memiliki arti konotatif yaitupenguasa.4Periksa Lubis(1998:190).5Sampai sekarang habitat topeng adalahwilayah pinggiran seperti: Slangit, Gegsik,Losari, dll.6Mengenai istilah gambuh ini rupa-rupa-nya terjadi pergeseran arti. Menurut Poerba-tjaraka (1968: 43) Gambuh (Gambuh WargaAsmara) adalah Candra Kirana yang menya-mar sebagai laki-laki untuk mengadakan per-tunjukan di kota Gegelang dalam Cerita Panji.7Periksa Nugraha(1982-1983:45)8Negeri (Tumenggungan) Jongjola itu(semula) adalah bawahan Bawarna, tetapikemudian Jinggananom ingin merdeka, memi-liki kedaulatan sendiri, dan karena itu ia taklagi melakukanseba atau mengirim upeti keBawarna (periksa Suanda dalam Nalan, ed.1996:30).9Diketahui lebih lanjut tokoh Jinggananomtidak ditarikan oleh ’penari’ melainkan olehpenabuh gamelan yang secara praktis tidakterampil dalam menari.10Periksa Nurwara, 2012: Penyajian TariTopeng Tumenggung Perang JinggananomCirebon Gaya Slangit . STSI Bandung th, 2012hlm. 125-127.